Inhil 8 April 2026 – Nama Drs. Lukman Harun (1934–1999) adalah jaminan mutu dalam sejarah pergerakan Islam dan politik Indonesia. Lahir di Limbanang, Suliki, Sumatera Barat, putra asli Luak Limopuluah ini membuktikan bahwa dedikasi dari kampung halaman bisa membawanya menjadi tokoh yang disegani di level internasional.
Bagi warga Muhammadiyah dan aktivis kemanusiaan, Lukman Harun adalah sosok “juru bicara” umat yang tak gentar menyuarakan kebenaran, baik di parlemen maupun di forum lintas agama dunia.
Akar Religi dan Semangat Aktivis
Lukman lahir dari pasangan Zaid dan Kamsiah. Ayahnya yang fasih berbahasa Arab menanamkan fondasi agama yang kuat sejak dini. Semangat juang ini ia bawa hingga merantau ke Jakarta untuk menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Nasional.
Di masa mahasiswa, Lukman mengasah taji organisasinya melalui Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan kemudian menjabat sebagai Ketua Pemuda Muhammadiyah. Di penghujung era Orde Lama, ia dikenal sebagai aktivis vokal yang berdiri di garis depan dalam menentang pengaruh komunisme di Indonesia.
Singa Parlemen yang Tak Kompromi
Karier politiknya dimulai saat ia ditunjuk menjadi anggota DPR Gotong Royong (DPR-GR) pada tahun 1967. Di gedung wakil rakyat, Lukman dikenal sebagai singa yang lantang menyuarakan kepentingan politik umat Islam.
Namun, prinsipnya yang teguh sering kali berbenturan dengan arus kekuasaan. Pada tahun 1971, ia terpaksa berhenti dari kursinya di DPR-GR karena kebijakan recall. Meski begitu, langkahnya tak terhenti; ia terus berjuang melalui Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) dan menduduki posisi strategis sebagai Sekretaris Jenderal.
Jembatan Perdamaian di Kancah Internasional
Warisan terbesar Lukman Harun terletak pada kemampuannya menjalin komunikasi lintas batas. Ia adalah tokoh Muhammadiyah yang sangat aktif di dunia internasional, terutama dalam mempromosikan perdamaian antaragama.
Dunia mengakuinya saat ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Asian Conference on Religion and Peace (ACRP). Di tangan Lukman, diplomasi Islam Indonesia tidak hanya dipandang sebelah mata, tetapi menjadi warna penting dalam dialog perdamaian di Asia dan dunia. Hingga akhir hayatnya, ia tetap menjadi Juru Bicara Muhammadiyah yang selalu siap meluruskan stigma negatif terhadap Islam di luar negeri.
Warisan dan Teladan
Menikah dengan Maimunah Malik, seorang wanita asal Maninjau, Lukman meninggalkan keteladanan tentang bagaimana menjaga keseimbangan antara keluarga, organisasi, dan negara.
Drs. Lukman Harun wafat pada 8 April 1999, namun semangatnya sebagai penggerak tetap abadi. Ia adalah bukti nyata bahwa seorang putra dari Suliki bisa menjadi jembatan perdamaian bagi dunia, tanpa sedikit pun melupakan akar dan nilai-nilai keislamannya.
Bkn//Sumber: Wikipedia/Leni.
#lukmanharun #tokohmuhammadiyah #suliki #limapuluhkota #tokohminang #aktivisislam #sejarahindonesia #hmi #internasional















