Berita  

MEDIATOR UTAMA AS-IRAN AKHIRNYA BICARA TERANG-TERANGAN, DAN DUNIA PERLU MENDENGARNYA

Selama bertahun-tahun Oman memilih berbicara pelan di balik layar. Kali ini, Menteri Luar Negeri Oman, Sayyid Badr Albusaidi, memilih berbicara keras di depan dunia.

Dalam sebuah opini yang diterbitkan majalah The Economist pada 18 Maret 2026, Albusaidi menulis sesuatu yang jarang sekali diucapkan secara terbuka oleh seorang diplomat kawasan: bahwa Amerika Serikat telah kehilangan kendali atas kebijakan luar negerinya sendiri, terseret masuk ke dalam perang yang bukan miliknya, demi kepentingan yang bukan kepentingannya.

Pesan itu ditujukan langsung ke Washington.

Menurut Albusaidi, serangan militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 adalah sebuah “kekeliruan fatal” — sebuah keputusan yang bukan hanya salah perhitungan secara strategis, tetapi juga menghancurkan momentum diplomasi yang selama berbulan-bulan ia bangun dengan penuh kesabaran.

Hanya beberapa jam sebelum serangan itu dilancarkan, Albusaidi masih berbicara dengan penuh optimisme. Ia baru saja menemui Wakil Presiden AS JD Vance dan menyatakan bahwa perdamaian sudah dalam jangkauan. Putaran perundingan di Jenewa pada 26 Februari tercatat sebagai sesi paling substantif sejak negosiasi dimulai — Iran bahkan telah menyepakati prinsip penghentian penimbunan uranium yang diperkaya dan pengawasan ketat atas fasilitas nuklirnya.

Lalu serangan itu datang. Dan semua itu runtuh dalam semalam.

“Itu adalah kejutan, tapi bukan kejutan yang tak terduga, ketika pada 28 Februari — hanya beberapa jam setelah pembicaraan terbaru dan paling substantif — Israel dan Amerika kembali meluncurkan serangan militer tak sah terhadap perdamaian yang sebentar lagi tampak benar-benar mungkin,” tulis Albusaidi.

Ia menegaskan bahwa asumsi Iran akan menyerah setelah serangan awal adalah kekeliruan yang berbahaya. Sebaliknya, Iran membalas dengan melancarkan serangan rudal dan drone ke enam negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk, memporakporandakan stabilitas kawasan yang selama ini dijaga dengan susah payah.

Bagi Oman, ini bukan sekadar kekecewaan diplomatik. Ini adalah pengkhianatan terhadap proses yang mereka pimpin, percayai, dan jaga integritasnya sejak awal.

Albusaidi tidak menyerukan pihak manapun untuk “menang.” Ia hanya menyerukan AS untuk berhenti sejenak, menimbang di mana sebenarnya kepentingan nasionalnya berada, dan membuka kembali jalan menuju perundingan — sebelum kawasan ini membayar harga yang jauh lebih mahal.

“Ini bukan perangmu,” tulis Albusaidi kepada Washington. Kalimat pendek itu kini bergema di seluruh ibu kota diplomatik dunia.

Bkn//Leni – Rls

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *