KUTAI – Di tengah rimbunnya semak belukar Kalimantan Timur, tersembunyi “monumen” bisu dari sebuah ambisi besar energi daerah. Rangkaian mesin raksasa yang dulunya digadang-gadang sebagai jantung penerang permukiman, kini hanya rongsokan berkarat yang ditinggalkan waktu. Inilah potret nyata dari proyek Pembangkit Listrik Tenaga Gas Batubara (PLTGB) yang mangkrak dan menyisakan tanda tanya besar.
Teknologi PLTGB pada dasarnya membawa harapan besar. Melalui proses gasifikasi, batubara mentah diubah menjadi gas sintetik untuk menggerakkan mesin pembangkit. Bagi provinsi lumbung energi seperti Kalimantan Timur, inovasi ini seolah menjadi solusi paling logis dan efisien. Sayangnya, cetak biru di atas kertas seringkali remuk saat menghadapi realitas lapangan. Kombinasi mematikan antara kerumitan teknis, tata kelola manajerial yang rapuh, dan terhentinya aliran finansial membuat megaproyek ini layu sebelum menghasilkan daya.
Kabo Jaya: Dari Proyek Vital Menjadi Ancaman Besi Tua
Kisah paling ironis terekam di kawasan Kabo Jaya, Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur. Mulai dibangun lebih dari satu dekade silam dengan tujuan mulia memerdekakan Sangatta dari krisis listrik, proyek berkapasitas 18 MW ini justru tertidur lelap.
Sudah lebih dari 15 tahun aset bernilai fantastis ini mangkrak. Pipa-pipa dan tabung gasifikasi yang dulunya diimpor kini nyaris tak berbentuk, pasrah ditelan ilalang dan korosi. Saking peliknya mencari jalan keluar dan investor baru yang bersedia membenahi kekacauan ini, pemerintah daerah setempat bahkan sempat melempar wacana untuk memutilasi dan melelang aset raksasa tersebut sekadar sebagai besi tua. Sebuah akhir tragis untuk proyek yang dulunya dielu-elukan.
PLTGB Royok: Mesin yang Tak Pernah Benar-benar Menyala
Luka infrastruktur ini ternyata tidak hanya ada di Sangatta. Bergeser ke Kutai Barat, tepatnya di Kampung Sekolaq Oday, nasib serupa menimpa PLTGB Royok. Alih-alih mengakhiri kegelapan bagi masyarakat sekitar, fasilitas ini justru berakhir menjadi pajangan yang memprihatinkan.
Bertahun-tahun pasca-pembangunan, mesin gasifikasi di Royok dilaporkan tidak pernah benar-benar mampu menyala secara stabil untuk menyuplai hak listrik warga. Kesulitan teknis dalam menjaga stabilitas pembakaran gasifikasi membuat operasional terhenti total. Fasilitas dibiarkan tanpa perawatan, dan harapan masyarakat pun ikut padam bersama instalasi yang kini rusak parah.
Pelajaran Mahal Infrastruktur Daerah
Mangkraknya PLTGB di Kutai Timur dan Kutai Barat bukan sekadar kegagalan mesin mekanik. Ini adalah cermin dari kelemahan dalam perencanaan infrastruktur jangka panjang. Ketika adopsi teknologi rumit tidak dibarengi dengan kesiapan teknisi lokal, pengawasan yang ketat, dan komitmen finansial yang solid, investasi sebesar apa pun hanya akan berujung menjadi rongsokan di tengah hutan.
Kini, besi-besi tua di Kabo Jaya dan Royok berdiri sebagai pengingat keras: bahwa ambisi membangun kemandirian energi membutuhkan lebih dari sekadar peletakan batu pertama. Bkn//Rilis.















