Bidikkadus.net – Nama besar Buya Hamka sebagai ulama, sastrawan, dan ketua MUI pertama sudah melegenda. Namun, jarang yang menyelami bahwa karakter “baja” Hamka adalah hasil tempaan seorang ayah yang luar biasa keras dan disiplin. Beliau adalah Dr. Haji Abdul Karim Amrullah, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Haji Rasul (Inyiak Deer).
Haji Rasul bukan sekadar orang tua bagi Hamka; ia adalah raksasa pemikiran Islam yang keberaniannya sempat membuat gemetar pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Karakter ‘Baja’ dan Gemblengan Disiplin
Haji Rasul dikenal sebagai sosok yang sangat teguh pada prinsip. Dalam sejarahnya, ia mendidik Hamka dengan disiplin yang sangat ketat. Ketegasan inilah yang sempat membuat hubungan ayah-anak ini mengalami dinamika yang luar biasa. Namun, di kemudian hari, Hamka mengakui bahwa tanpa “tangan besi” sang ayah dalam menjaga kemurnian akidah dan kecintaan pada ilmu, ia tidak akan pernah menjadi sosok yang disegani dunia.
Inyiak Deer menanamkan bahwa seorang ulama tidak boleh hanya diam di dalam masjid. Ulama harus menjadi motor penggerak masyarakat dan berani menyuarakan kebenaran, meski di depan moncong meriam penjajah.
Ulama Nusantara Pertama yang “Mengguncang” Mesir
Salah satu pencapaian yang paling membanggakan bagi bangsa Indonesia adalah saat Haji Rasul diundang ke Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir pada tahun 1926. Kedalaman ilmunya dalam membedah persoalan agama membuat para ulama di universitas Islam tertua di dunia itu terpukau.
Sebagai bentuk penghormatan tertinggi, Al-Azhar menganugerahkan gelar Doktor Kehormatan (Doctor Honoris Causa) kepada Haji Rasul. Ia tercatat sebagai orang Indonesia pertama (bersama Dr. Abdullah Ahmad) yang menerima gelar bergengsi tersebut. Ini adalah bukti sahih bahwa kualitas intelektual ulama dari pelosok Maninjau mampu berdiri sejajar dengan cendekiawan kelas dunia di Timur Tengah.
Arsitek Pendidikan Islam Modern
Sebelum adanya sekolah-sekolah Islam modern yang kita kenal sekarang, Haji Rasul telah melahirkan revolusi melalui Sumatra Thawalib. Ia merombak sistem pendidikan Islam yang tadinya hanya duduk bersila (halaqah) menjadi sistem kelas yang terorganisir.
Langkah ini dianggap sangat radikal pada masanya karena dianggap meniru sistem sekolah Belanda. Namun, Haji Rasul tetap bergeming. Baginya, umat Islam harus cerdas dan teratur jika ingin merdeka. Inilah cikal bakal lahirnya ribuan cendekiawan Muslim yang kemudian ikut berjuang memerdekakan Indonesia.
Keteguhan yang Tak Bisa Dipenjara
Ketajaman kritiknya terhadap kebijakan pemerintah kolonial membuatnya dianggap sebagai ancaman serius bagi Belanda. Pada tahun 1941, Haji Rasul dibuang ke Sukabumi dalam pengasingan politik. Namun, penjajah salah sangka; meski raganya diasingkan, surat-surat dan pemikiran yang ia kirimkan justru semakin membakar semangat perlawanan di Sumatera dan Jawa.
Haji Rasul wafat pada 2 Juni 1945, hanya beberapa minggu sebelum proklamasi kemerdekaan berkumandang. Ia meninggal dengan tenang, mengetahui bahwa benih-benih pembaruan yang ia tanam telah tumbuh subur di tangan putra-putranya dan ribuan muridnya.
Warisan untuk Bangsa
Hingga hari ini, jejak Haji Rasul dapat kita temui melalui karya-karyanya dan tentu saja melalui biografi yang ditulis dengan penuh cinta oleh putranya, Buya Hamka, dalam buku legendaris Ayahku.
Ia bukan hanya pahlawan bagi warga Minangkabau, tapi mercusuar bagi siapa saja yang percaya bahwa pendidikan dan karakter adalah kunci kejayaan sebuah bangsa.
Bkn//Wikipedia
#HajiRasul #BuyaHamka #IntelektualMuslim #SejarahIndonesia #Maninjau #SumatraThawalib #AlAzhar #InspirasiIslam














