Soekarno dalam masa pemerintahanya pernah memadamkan pemberontakan PKI, namun Soekarno masih punya pemikiran yang waras. Sebab yang memberontaknya saja yang dihabisi, yang tidak tau menau (Orang beridiologi komunis) ya tidak diapa-apakan.
Jadi ceritanya begini ;
Musso kembali ke Indonesia setelah 12 tahun berada di Uni Soviet. Kedatangannya pada 11 Agustus 1948 membawa mandat “Jalan Baru untuk Republik Indonesia”. Ia ingin merestrukturisasi PKI menjadi partai tunggal kelas pekerja yang kuat dan mengkritik diplomasi pemerintah Hatta yang dianggap terlalu kompromis terhadap Belanda (M.C. Ricklefs, 2008: 462).
Secara teknis, Musso “pulang kampung” ke tanah air, namun tujuannya bukan sekadar “mudik” atau urusan keluarga, melainkan tujuan politis yang sangat spesifik untuk mengambil alih kepemimpinan sayap kiri yang saat itu sedang terpuruk pasca-Jatuhnya Kabinet Amir Sjarifuddin.
Musso datang dengan agenda Cominform (Organisasi Komunis Internasional) untuk menjadikan Indonesia bagian dari blok Soviet. Pidato-pidatonya yang agresif di berbagai kota (termasuk Madiun) dianggap sebagai provokasi sengaja untuk memancing konflik bersenjata dan merebut kekuasaan dari Soekarno-Hatta (A.H. Nasution, 1970: 124).
Akhirnya, melihat gerakan PKI dibawah pimpinan Muso yang membahayakan, Presiden Soekarno memberikan pilihan tegas kepada rakyat melalui radio: “Pilih Soekarno-Hatta atau Musso dengan PKI-nya”. Pilihan ini memaksa Musso untuk bereaksi secara frontal. Musso menjawab dengan pidato tandingan yang menyerang balik Soekarno, yang secara de facto mengukuhkan situasi tersebut sebagai pemberontakan terbuka terhadap negara (M.C. Ricklefs, 2008: 465).
Nasib Musso berakhir tragis. Ia tewas dalam pengepungan oleh pasukan TNI (Divisi Siliwangi) di sebuah desa dekat Ponorogo pada 31 Oktober 1948. Kematiannya mengakhiri upaya “Jalan Baru” yang ia bawa dari Moskow (A.H. Nasution, 1970: 138).
Bkn//Oleh : Sejarah Cirebon















