Bangkit dengan Karya, Bukan Dibesar oleh Adu Domba

Indragiri Hulu.

Di sebuah kota kecil bernama Tunas Harapan, tinggal seorang pemuda bernama Rafi, yang dikenal sebagai anak biasa-biasa saja. Nilainya di sekolah tak menonjol, prestasinya pun tak pernah diumumkan di depan kelas. Tapi ada satu hal yang membuatnya berbeda. ia suka mencipta.

Rafi gemar menulis, menggambar, dan membuat lagu, meski sering kali karyanya hanya berakhir di sudut kamar atau diunggah di media sosial tanpa banyak yang peduli.

Suatu hari, sekolahnya mengadakan lomba karya seni antarsiswa. Tema besar yang diangkat adalah “Bangkitkan Semangat Persatuan.” Rafi langsung tertarik. Ia menghabiskan malam-malam panjang merangkai sebuah puisi ilustrasi berjudul “Satu Langit, Seribu Warna.”

Dalam karyanya, Rafi menggambarkan perbedaan bukan sebagai alasan untuk bersaing, melainkan untuk saling melengkapi.
Namun di sisi lain, ada Dian, siswi populer yang dikenal pandai berpolitik di antara teman-teman. Ia tak suka Rafi mendapat perhatian, dan mulai menebar bisik-bisik, mengatakan bahwa Rafi meniru karya dari internet.

“Ah, dia mana bisa buat karya sebagus itu sendiri,” ucap Dian di grup kelas.
Kabar itu cepat menyebar. Rafi sempat down. Ia bahkan hampir membatalkan keikutsertaannya. Tapi di tengah keraguannya, guru seninya, Pak Rendra, berkata pelan,

“Nak, dunia akan selalu punya dua jenis orang. yang membangun, dan yang membakar. Kalau kamu berhenti karena dibakar kata-kata, siapa yang akan membangun?”

Kata-kata itu menyalakan semangat Rafi kembali. Ia menyiapkan presentasi karyanya dengan penuh keyakinan. Saat tiba hari penilaian, ia berdiri di depan dewan juri dan teman-temannya, lalu berkata.

“Saya percaya, kebesaran seseorang bukan karena siapa yang ia kalahkan, tapi karena apa yang ia ciptakan. Saya ingin kita semua bangkit dengan karya, bukan dibesarkan oleh adu domba.”

Ruangan menjadi hening sejenak, lalu disambut tepuk tangan yang meriah. Bahkan Dian, yang awalnya sinis, menunduk malu.
Beberapa minggu kemudian, Rafi diumumkan sebagai juara pertama. Tapi baginya, kemenangan bukan karena piala yang ia genggam, melainkan karena ia berhasil menang dari dirinya sendiri. dari rasa takut, iri, dan hasutan.
Rafi pun menulis kalimat di akhir bukunya yang kemudian viral di media sosial.

“Karya akan mengangkatmu setinggi langit, sementara adu domba hanya membuatmu terjebak di lumpur.”

Dan sejak hari itu, kota kecil Tunas Harapan belajar satu hal penting. bahwa kebesaran sejati tidak lahir dari pertikaian, tetapi dari keberanian untuk berkarya dan saling menghargai.
Karya Musdiansah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *