Opini  

“Ini Tanda Demokrasi Kita Sedang Sakit?”

Inhil – Ada fenomena menarik dalam politik Indonesia hari ini.

Bukan soal oposisi.
Bukan soal partai.

Tapi soal…
rasa takut.

Yang aneh,
bukan rakyat yang takut pada pejabat.

Tapi pejabat…
yang terlihat takut pada pengamat politik.

Padahal secara struktur,
pengamat itu tidak punya kekuasaan apa pun.

Mereka tidak bisa membuat kebijakan.
Tidak bisa menjatuhkan jabatan.
Tidak punya instrumen hukum.

Yang mereka punya hanya satu:

Analisis.

Tapi justru itu yang ditakuti.

Kenapa?

Karena analisis yang tajam
bisa membuka pola.

Bisa menghubungkan fakta.

Dan yang paling berbahaya bagi kekuasaan—

bisa mengubah persepsi publik.

Di sinilah letak masalahnya.

Sebagian pejabat hari ini
tidak lagi fokus pada substansi kebijakan.

Tapi lebih sibuk mengelola citra.

Akibatnya,
kritik dianggap ancaman,
bukan masukan.

Pengamat dianggap lawan,
bukan penyeimbang.

Ini berbahaya.

Karena dalam sistem demokrasi,
pengamat adalah bagian dari ekosistem kontrol.

Mereka bukan musuh negara.

Mereka justru…
alarm.

Kalau alarm dibungkam,
bukan berarti bahayanya hilang.

Justru sebaliknya—
kita kehilangan peringatan.

Dan ketika pejabat mulai takut pada suara analisis,
itu bukan menunjukkan kekuatan.

Itu menunjukkan kerentanan.

Kerentanan terhadap kritik.
Kerentanan terhadap transparansi.
Dan mungkin…

kerentanan terhadap kebenaran itu sendiri.

Jadi pertanyaannya bukan lagi:

Kenapa pengamat begitu vokal?

Tapi:

Kenapa pejabat begitu reaktif?

Karena dalam politik yang sehat,
kritik itu biasa.

Yang tidak biasa adalah…

ketika kekuasaan merasa terancam oleh kata-kata,

Bkn//Leni-Rls

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *