SIAK SRI INDRAPURA – Proses seleksi Direktur PT Bumi Siak Pusako (BSP) kian menghangat. Di balik tahapan resmi Uji Kelayakan dan Kepatutan (UKK), dinamika yang berkembang tidak lagi sekadar soal kompetensi, melainkan mulai mengarah pada dugaan jejaring kekuasaan di belakang para kandidat.
Dalam pengumuman tersebut, terdapat sepuluh nama yang dinyatakan lolos tahap administrasi dan berhak melanjutkan ke tahapan uji kelayakan dan kepatutan. Mereka adalah:
1. Adi Putra Pradana, ST, M.Sc
2. Dudy Lastawan ZA, S.T., M.T
3. Irdas Amanda Muswar, S.T
4. Muhammad Barbarosa, S.T., M.T
5. Muhammad Yusuf, S.Si., M.T
6. Muttaqin, S.T
7. Ridwan, S.T
8. Riky Hariansyah, S T., M.M
9. Robi Junipa, S.T
10. Satria Antoni, S.Pi., M.Sc., Ph.D
Dari sepuluh nama yang lolos seleksi administrasi, perhatian publik disebut mengerucut pada tiga kandidat: Dudy Lastawan, Riky Hariansyah, dan Ridwan.
Sejumlah sumber internal menyebut, ketiganya bukan hanya bersaing dari sisi kapasitas, tetapi juga berada dalam orbit dukungan yang berbeda.
Riky dan Jejak Keluarga Politik
Nama Riky Hariansyah menjadi salah satu yang paling banyak diperbincangkan. Ia disebut-sebut memiliki kedekatan dengan lingkar kekuasaan daerah.
Informasi yang berkembang menyebut, Riki merupakan anak dari mantan Bupati Siak. Kedekatan ini dinilai tidak bisa dilepaskan dari dinamika politik terbaru, mengingat sosok mantan bupati tersebut disebut-sebut pernah berada dalam barisan pendukung pada Pilkada 2025 yang mengusung Bupati Siak saat ini.
“Relasi itu tidak bisa diabaikan. Dalam politik daerah, faktor kedekatan seperti ini biasanya punya pengaruh, ”ujar seorang sumber yang memahami peta kekuatan lokal.
Meski demikian, hingga kini tidak ada pernyataan resmi yang mengonfirmasi adanya dukungan langsung dari pihak kepala daerah terhadap kandidat tertentu.
Dudy–Ridwan dan Poros Alternatif
Sementara itu, dua nama lain, Dudy Lastawan dan Ridwan, disebut berada dalam jalur yang berbeda.
Keduanya dikabarkan memiliki kedekatan dengan figur-figur politik lain di daerah, termasuk dari unsur legislatif dan tokoh berpengaruh pasca kontestasi politik terakhir.
Beberapa sumber menyebut nama-nama seperti pimpinan DPRD dan aktor politik lokal turut disebut dalam percakapan internal sebagai pihak yang memiliki preferensi terhadap kandidat tertentu.
“Kalau ditarik garisnya, ini seperti ada poros-poros. Tidak resmi, tapi terasa di internal, ”kata sumber lain.
Namun kembali ditegaskan, informasi ini masih sebatas dinamika yang berkembang dan belum pernah dikonfirmasi secara terbuka oleh pihak-pihak terkait.
Seleksi atau Konsolidasi Kekuatan?
Dengan menguatnya isu kedekatan dan dukungan tersebut, muncul pertanyaan: apakah seleksi Direktur BSP murni berbasis merit, atau justru menjadi bagian dari konsolidasi kekuatan pasca Pilkada?
Pengamat lokal menilai, dalam konteks BUMD strategis seperti BSP, posisi direktur memang kerap menjadi titik temu antara kepentingan bisnis dan politik.
“Karena ini menyangkut PAD dan sektor migas, semua pihak tentu ingin punya pengaruh, ”ujarnya.
Dilema di Ujung Keputusan
Situasi ini disebut menempatkan kepala daerah dalam posisi yang cukup sensitif. Keputusan yang diambil nantinya tidak hanya akan dinilai dari sisi profesionalisme, tetapi juga akan dibaca sebagai sinyal politik.
Jika pilihan jatuh pada kandidat yang dianggap dekat dengan kekuasaan, publik bisa saja menilai adanya keberpihakan. Sebaliknya, jika mengabaikan peta dukungan yang ada, potensi gesekan politik juga bukan hal yang mustahil.
Taruhan Besar di Balik BSP
Di tengah semua dinamika tersebut, satu hal yang tidak berubah, PT BSP saat ini membutuhkan kepemimpinan yang kuat dan berpengalaman, terutama dalam menghadapi tantangan penurunan produksi dan kompleksitas industri migas.
Karena itu, publik kini menanti bukan hanya siapa yang akan terpilih, tetapi juga cerita di balik terpilihnya nama tersebut.
Apakah ini akan menjadi kemenangan profesionalisme, atau justru cerminan peta kekuasaan yang selama ini hanya dibicarakan di belakang layar?.
Bkn//Rishki N Garawn.















