Bidikkasus.net – Jika kita berbicara tentang universitas tertua dan paling prestisius di dunia Islam, Al-Azhar di Kairo, Mesir, adalah jawabannya. Namun, tahukah Anda siapa orang Indonesia pertama yang berhasil mendapatkan pengakuan tertinggi berupa gelar Doktor Kehormatan dari institusi tersebut?
Ia adalah Dr. H. Abdoellah Ahmad, seorang ulama visioner asal Padang Panjang, Sumatera Barat. Sosok yang akrab disapa Tuan Dullah ini bukan sekadar ulama biasa; ia adalah arsitek pendidikan Islam modern yang namanya harum hingga ke Timur Tengah.
Menembus Jantung Intelektual Dunia
Pada tahun 1926, sebuah konferensi khilafat digelar di Kairo, Mesir. Di sana, para ulama besar dari seluruh penjuru dunia berkumpul untuk membahas masa depan umat. Di antara deretan cendekiawan tersebut, hadir Abdullah Ahmad bersama sahabat karibnya, Abdul Karim Amrullah (ayah dari Buya Hamka).
Kedalaman argumen dan penguasaan ilmu agama Abdullah Ahmad membuat para ulama Timur Tengah berdecak kagum. Sebagai bentuk penghormatan atas kontribusinya dalam pembaruan Islam, Universitas Al-Azhar menganugerahkan gelar Doktor Fid-din (Doktor Kehormatan dalam Ilmu Agama) kepadanya. Pencapaian ini menjadi catatan sejarah yang luar biasa, menempatkan putra Minangkabau sebagai orang Indonesia pertama yang diakui secara akademis oleh Al-Azhar.
Ulama yang ‘Melek’ Literasi dan Pers
Salah satu keunikan Tuan Dullah adalah pandangannya yang melampaui zaman. Ia sadar bahwa dakwah di masjid saja tidak cukup untuk mencerdaskan bangsa yang saat itu masih dijajah. Maka, ia pun terjun ke dunia jurnalistik.
Ia mendirikan majalah Al-Munir pada 1911, yang menjadi majalah massa Islam pertama di Indonesia. Melalui tulisan-tulisannya, ia mengajak umat Islam untuk meninggalkan khurafat dan bid’ah, serta mulai menggunakan akal pikiran untuk memajukan kehidupan. Kehebatannya dalam merangkai kata membuatnya dipercaya menjadi ketua persatuan wartawan di Padang pada tahun 1914.
Warisan Pendidikan: Adabiah dan Thawalib
Bagi warga Kota Padang dan sekitarnya, nama Adabiah tentu sudah sangat familiar. Yayasan pendidikan ini adalah buah pikiran Abdullah Ahmad yang didirikan pada tahun 1909. Ia ingin anak-anak Indonesia mendapatkan pendidikan yang sistematis—menggabungkan ilmu agama yang kuat dengan sistem persekolahan modern ala Barat.
Selain Adabiah, ia juga merupakan tokoh kunci di balik Sumatra Thawalib dan pendiri Persatuan Guru Agama Islam (PGAI). Semua lembaga ini masih berdiri tegak hingga hari ini, menjadi bukti nyata bahwa perjuangannya tidak lekang oleh waktu.
Sosok Rendah Hati yang Dicintai Pemuda
Meskipun menyandang gelar Doktor dari Mesir dan menjadi ulama besar, Abdullah Ahmad dikenal sangat dekat dengan kaum muda. Ia adalah pendukung utama Jong Sumatranen Bond (organisasi pemuda Sumatera) dan sering berdiskusi dengan para mahasiswa kedokteran di Jakarta.
Ia wafat pada tahun 1933 dalam usia 55 tahun, namun api pembaruan yang ia nyalakan tetap berkobar. Abdullah Ahmad telah membuktikan bahwa dari pelosok Sumatera Barat, seorang anak bangsa bisa berdiri sejajar dengan para intelektual dunia.
Bkn//Wikipedia.
#AbdullahAhmad #AlAzhar #SejarahMinang #TokohInspiratif #PahlawanPendidikan #SumbarFokus #IntelektualMuslim #SejarahIndonesia














