Berita  

Dalam diplomasi yang matang, perbandingan yang simplistis kerap muncul dari ketakutan semu

Sementara Eropa menutup ruang udara demi menghindar perang, Indonesia malah membuka pasti jadi sasaran musuh Amerika.”

Padahal, mari kita tarik benang merahnya dengan jernih dan tanpa emosi. Eropa bukan sedang “menghindar perang” dengan menutup langitnya; mereka justru terikat erat dalam pakta pertahanan kolektif NATO, menjadi bagian aktif dari dinamika konflik Ukraina, serta melarang penerbangan Rusia sebagai instrumen konfrontasi geopolitik. Itu bukan sikap netral, melainkan pilihan blok yang sudah telanjang. Satu kaki mengklaim perdamaian, kaki lain menginjak medan perang klasik permainan dua kaki yang akhirnya membuat mereka kehilangan ruang manuver sendiri.

Indonesia, sebaliknya, tidak sedang “membuka pintu lebar”. Melalui kesepakatan yang akan ditandatangani Menhan Sjafrie Sjamsoeddin, kita justru sedang “mengatur” pintu itu dengan tegas dan berdaulat penuh: akses hanya untuk operasi darurat, tanggap krisis, dan latihan bersama yang kita setujui. Bukan sekadar izin, melainkan perjanjian yang kita tulis syaratnya. Itulah esensi kedaulatan yang sesungguhnya bukan mengisolasi diri dalam ketakutan, melainkan menentukan sendiri kapan, untuk apa, dan sejauh mana langit kita boleh dilintasi.

Gerak cepat diplomasi ini bukan naif, melainkan cerdas dan antisipatif. Di tengah Indo-Pasifik yang semakin ramai, posisi geografis kita adalah aset strategis, bukan beban. Kita memilih menjadi pemain yang mengendalikan narasi, bukan objek yang pasif menunggu nasib. Karena negara yang benar-benar berdaulat bukan yang takut dibidik, melainkan yang mampu menentukan sendiri siapa yang boleh melintas dan dengan aturan apa.

Jadi, sebelum buru-buru menyebut “fix jadi sasaran”, mungkin lebih bijak kita tanyakan dulu: apakah Eropa yang sudah terjebak dalam aliansi itu benar-benar lebih aman, atau justru Indonesia yang sedang menunjukkan cara bermain catur yang lebih elegan; berelasi tanpa menjadi pion siapa pun? Kedaulatan bukan soal menutup langit; kedaulatan adalah soal siapa yang memegang kuncinya. Dan Indonesia, saat ini, sedang memegangnya dengan tegas.

Bkn//Leni.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *