Bidikkasus.net – Sejarah Indonesia mencatat banyak ulama yang menjadi pilar bangsa, namun tak banyak yang menguasai rahasia langit sekaligus strategi bumi seperti Syekh Muhammad Jamil Jambek. Ulama kharismatik asal Bukittinggi yang akrab disapa Inyiak Jambek ini adalah perpaduan langka antara seorang pakar astronomi (ilmu falak) dunia dan pejuang politik yang menjadi kepercayaan Presiden Soekarno.
Lahir dari keluarga bangsawan pada tahun 1860, Inyiak Jambek bukan sekadar pembaru agama, melainkan intelektual yang membawa Islam di Minangkabau keluar dari kungkungan mistis menuju era pencerahan yang rasional.
Menembus Rahasia Langit: Sang Pakar Falak
Perjalanan ilmiah Inyiak Jambek dimulai saat ia menimba ilmu di Mekkah. Di bawah bimbingan guru besar Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, ia tidak hanya mendalami syariat, tetapi juga jatuh cinta pada Ilmu Falak atau astronomi Islam.
Ketajamannya dalam menghitung orbit benda langit menjadikannya rujukan utama para pelajar di tanah suci. Di masanya, ia adalah otoritas penentu arah kiblat dan waktu ibadah yang sangat presisi. Keahliannya ini bahkan sempat memicu diskusi hangat di Medan pada 1935, ketika hasil perhitungan astronominya menetapkan bulan Ramadhan hanya 29 hari—berbeda dengan ketetapan Kesultanan Deli. Ini membuktikan bahwa Inyiak Jambek adalah ulama yang teguh pada kebenaran sains dan data.
Revolusi Dakwah: Bicara dengan Bahasa Rakyat
Kembali ke tanah air pada 1903, Inyiak Jambek menyadari bahwa Islam sulit berkembang jika hanya dibungkus dengan bahasa Arab yang tidak dimengerti orang awam. Ia pun melakukan gebrakan yang sangat berani pada masanya: berdakwah menggunakan bahasa Melayu.
Ia adalah ulama pertama yang memperkenalkan cara bertablig di muka umum. Kisah-kisah Nabi dan peristiwa Isra Mi’raj yang biasanya dibacakan secara berlagu dalam bahasa Arab, ia ubah menjadi narasi bahasa rakyat agar bisa dimengerti oleh petani, pedagang, hingga lapisan masyarakat terbawah. Langkah ini menjadi kunci suksesnya pembaruan Islam di Sumatera Barat.
Kepercayaan Bung Karno dan Peran untuk Republik
Kharisma dan kecerdasan Inyiak Jambek menarik perhatian sang Proklamator, Ir. Soekarno. Hubungan keduanya sangat erat, didasari oleh kekaguman Soekarno terhadap pemikiran sang Syekh yang progresif dan modern.
Tak heran jika pada 25 September 1945, hanya sebulan setelah Indonesia merdeka, Presiden Soekarno mengangkat Inyiak Jambek menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) Republik Indonesia. Posisi ini menempatkannya sebagai salah satu penasihat utama negara dalam menjaga kedaulatan Indonesia yang baru lahir.
Bahkan, pada masa pendudukan Jepang, ia dipercaya memimpin Majelis Islam Tinggi (MIT) di Bukittinggi, membuktikan bahwa ketokohannya diakui oleh berbagai pihak sebagai representasi suara ulama dan masyarakat Minangkabau.
Warisan Sang Penjaga Adat dan Agama
Meski vokal melakukan pembaruan, Inyiak Jambek adalah sosok yang sangat menghormati adat. Ia mendirikan Persatuan Kebangsaan Minangkabau pada tahun 1929 untuk memastikan bahwa kemajuan agama tidak menghancurkan jati diri budaya Minang.
Beliau wafat pada 30 Desember 1947, meninggalkan warisan pemikiran tentang Islam yang cerdas, moderat, dan nasionalis. Hingga hari ini, namanya tetap abadi dalam sejarah sebagai ulama yang mampu membaca tanda-tanda di langit untuk kemaslahatan umat di bumi.
Bkn//Wikipedia.
#SyekhJamilJambek #InyiakJambek #UlamaMinang #PakarFalak #SejarahRI #BungKarno #TokohInspiratif #Bukittinggi #SumbarRancak














