Mengapa Amerika Serikat turun tangan di Vietnam? Bukan karena seperti tuduhan akan haus kekuasaan imperialis ala film Hollywood, tapi lebih tepatnya karena dua misi mulia yang disajikan dengan elegan di ruang rapat Pentagon:
Pertama, ‘membantu Prancis’, sahabat karib sejak zaman Revolusi Amerika bayangkan kalau teman lama Anda (yang pernah bantu Anda merdeka dari Inggris) sedang kesulitan mempertahankan “warisan kolonial”-nya di Indochina pasca-Perjanjian Geneva 1954. Apa lacur? Biarkan saja Prancis kalah telak di Dien Bien Phu? Tidak sopan! Jadi, AS kirim bantuan, senjata, dana,seperti kirim paket bantuan kemanusiaan, tapi versi militer. “We stand with our allies,” kata mereka dengan aksen Yale yang halus. Receh? Sangat. Ini namanya solidarity among great powers.
Kedua, ‘mencegah perluasan pengaruh komunisme di Asia Tenggara’ melalui Teori Domino yang legendaris versi resmi yang dibungkus rapi oleh Eisenhower, Kennedy, sampai Johnson. Kalau Vietnam Utara (Ho Chi Minh cs.) menang, bukan cuma Vietnam bersatu di bawah bendera merah; efek domino bakal bergulir: Thailand jatuh, Malaysia ikut, Indonesia mungkin goyang (ingat PKI waktu itu?), sampai Jepang,sekutu utama AS pasca-PD II,bisa tergoda mendekat ke blok Soviet/Cina. Hasilnya? Seluruh Asia Tenggara jadi satu pesta komunisme raksasa, dan boom,Pasifik hilang kendali. “Very bad deal, folks,” kata Trump kalau dia lahir lebih awal.
Jadi, bukan perang menaklukkan Asia demi Ambisi Global yang terlalu percaya diri sampai lupa pakai jaket diplomasi, melainkan pertahanan kebebasan dunia bebas (free world defense), containment communism yang cerdas, dan bantuan tetangga yang sopan. Kalau gagal? Ya, bukan karena visi globalnya salah, tapi karena eksekusi strategi militer yang… katakanlah, kurang optimal,mirip CEO hebat tapi timnya main game di medan perang. Kritik publik AS pasca-1975? Fokus ke “kebodohan Pentagon”, bukan ke hasrat hegemonik. Karena, seperti kata pepatah receh tapi berkelas: “Kalah perang boleh, tapi kalah gengsi jangan sampai.”
Trump pasti setuju: “We had the best intentions, tremendous intentions believe me. Kalau menang, sekarang kita semua minum kopi di Saigon sambil bilang ‘great job’.” imperialisme? Bukan. Cuma… exceptionalism yang terlalu antusias.
Laporan selesai ! NOHOAX.















