Berita  

PAHLAWAN DAYAK, ACAK-ACAK SARANG BELANDA DI KOTAWARINGIN !

KOTAWARINGIN BARAT, KALIMANTAN — Hari ini, sejarah mencatat sebuah tindakan keberanian luar biasa dari Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) dan para putra daerah Kalimantan. Imanuel Nuhan, pemuda pejuang asal Dayak, adalah salah satu dari 13 prajurit yang berani melakukan Operasi Lintas Udara Pertama AURI, terjun langsung di wilayah yang dikuasai ketat oleh Belanda.

Pertaruhan Nyawa di Ketinggian Rendah
Misi ini, yang dipimpin oleh Mayor Udara Tjilik Riwut, adalah respons nekad terhadap Agresi Militer Belanda I yang bertujuan memadamkan perlawanan di Kalimantan. Imanuel Nuhan, bersama 12 rekannya, diterbangkan dari Maguwo (Yogyakarta) menggunakan pesawat angkut Dakota RI-002 yang disewa secara rahasia.

Momen pertempuran heroik Imanuel Nuhan dimulai ketika ia harus melompat dari pesawat pada ketinggian yang sangat rendah di atas Desa Sambi, Kotawaringin Barat. Penerjunan dilakukan pada malam hari dan pada ketinggian rendah agar tidak terdeteksi oleh radar dan pesawat pencegat Belanda.

Pertempuran Pertama, Saat mendarat, Imanuel Nuhan dan timnya tidak hanya berhadapan dengan kegelapan dan hutan belantara yang asing. Misi mereka adalah segera mengonsolidasikan diri dan melancarkan pertempuran gerilya begitu mereka mencapai daratan. Mereka harus menghindari patroli Belanda yang berjarak sangat dekat. Nuhan, dengan pengetahuan tentang medan Kalimantan, menjadi aset vital dalam navigasi tim di hutan pasca-penerjunan.

Membentuk Kantong Pertahanan
Setelah berhasil mendarat, tugas Imanuel Nuhan dan rekannya tidak berhenti. Peran heroik mereka adalah membangun Komando Tentara Republik Indonesia (TRI) di Kalimantan.

Mereka harus:

Menghubungi dan mengorganisir pejuang lokal (pasukan gerilya) yang tersebar.

Menyebar luaskan informasi bahwa Republik Indonesia masih eksis dan berjuang, menepis propaganda Belanda.

Imanuel Nuhan berjuang selama berbulan-bulan di hutan Kalimantan, bertempur melawan patroli Belanda dan mencari logistik. Keberhasilan Nuhan dan timnya bertahan hidup dan membentuk kantong pertahanan terbukti sangat efektif, memberikan tekanan signifikan pada Belanda dan membuktikan kepada dunia bahwa Republik Indonesia memiliki kedaulatan militer di seluruh wilayahnya.

Keberanian Imanuel Nuhan sebagai salah satu ‘Penerjun 13’ ini kini diabadikan sebagai Hari Jadi Pasukan Khas (Paskhas/Kopasgat) TNI AU. Nuhan adalah simbol dari tekad putra daerah yang rela melompat ke belakang garis musuh demi mempertahankan harga diri bangsa.

SUMBER:
TNI AU (tni-au.mil.id): Sejarah Berdirinya Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) dan Misi Penerjunan 13.

Historia.ID: Pilot Amerika dan Pasukan Payung Pertama di Kalimantan (Kisah penerjunan 17 Oktober 1947).

Buku Sejarah Militer: Catatan mengenai Operasi Lintas Udara Pertama AURI.

Pangkalan Udara Iskandar, Kotawaringin Barat: Arsip dan catatan lokal mengenai peristiwa penerjunan. Bkn//Rls.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *