Banyak, tak jadi kebanggaan, sedikit, tak jadi keluhan. Banyak tak merasa sbg pemiliknya, sadar hanya titipan, sehingga akan mudah mengeluarkannya. Sedikit, bersyukur karena akan ringan hisabnya di akhirat.
Kaya bukan untuk diperjuangkan, miskin bukan untuk dikeluhkan. Kaya itu akibat saja dari hidup produktif dan miskin adalah akibat dari hidup malas. Yang harus diperjuangkan itu kebenaran, bukan kekayaan. Yang harus dihindari itu dosa dan kesalahan, bukan ketakpunyaan. Ketakpunyaan bukan berarti kemiskinan bila hatinya lapang dan rajin bersyukur.
Dalam kaya ada nafsu untuk selalu merasa kurang, merasa hasil usaha sendiri, jadi kebanggaan dan pamer. Dalam kemiskinan ada nafsu untuk mengeluh dan merasa hidup penuh kesulitan padahal banyak orang yang lebih sulit hidupnya.
Miskin bukan untuk dikeluhkan tapi untuk diubah dengan usaha. Usaha tak harus berhasil, kerja tak harus kaya, karena yang penting adalah melangkah dan berbuat, bukan hasilnya.
Jadi, apa zuhud itu? Mudah diteorikan, tak mudah dipraktekkan. Mudah dijelaskan, tak mudah diamalkan. Saya pun ini sedang berteori, faktanya belum tentu seperti apa yang saya katakan, karena zuhud itu tidak mudah.
Bila ada orang berkata, saya menjalani hidup zuhud, itu ciri dia tidak zuhud. Bila ada yang bilang, saya ikhlas, itu artinya dia tidak ikhlas. Zuhud, ikhlas dan cinta bukan di kata-kata tapi di sikap hati dan perbuatan. Wallahu a’lam. Bkn//Redaksi.















